JATENG, CHANEL7.ID – Sore yang hangat di Colomadu, saat tim Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community berkesempatan berkunjung dan ngobrol dengan Tiyono, pengrajin rotan asal Karanganyar. Suasana di workshop dipenuhi semangat kreasi, aroma anyaman rotan yang baru selesai, dan riuh rendah perbincangan tentang teknik tradisional maupun inovasi bahan baku. Kunjungan ini membuka cakrawala baru tentang potensi serat alami selain rotan, terutama pelepah pisang (12/08/2025).
Workshop Tiyono dari CRM Craft selama ini dikenal sebagai pusat produksi furniture rotan berkualitas. Namun belakangan di workshopnya yang di Colomadu Karanganyar ia merambah pemanfaatan serat pelepah pisang, eceng gondok, dan kertas daur ulang. Bagi Tiyono, diversifikasi bahan baku jadi kunci menghadapi fluktuasi harga dan ketersediaan rotan di pasaran. Ia membagi proses pengolahan pelepah pisang menjadi benang, dengan tahapan pemilihan, pemotongan, pengeringan, lalu penyulaman, yang ternyata relatif terjangkau di tingkat desa.
Dalam diskusi intens, Tiyono memaparkan bahwa permintaan benang pelepah pisang sedang melejit. Banyak produsen anyaman dan furniture ramah lingkungan berlomba mencari stok bahan dasar ini. Namun kenyataannya, ketersediaan di pasaran masih minim. Produsen besar bahkan rela antre menjelang panen, dengan janji pembelian jangka panjang jika kualitas benang terjaga. Kondisi ini membuka peluang strategis bagi desa-desa penghasil pelepah pisang.
“Pelepah pisang umumnya dianggap limbah agrikultur. Setelah buah dipetik, pelepah kerap dibiarkan membusuk di kebun. Padahal bila diolah, seratnya bisa menjadi benang halus, tahan lama, dan bernilai ekonomis tinggi. Dengan pemberdayaan warga desa melalui pelatihan pengolahan, mulai teknik manual hingga mesin sederhana, serat pelepah pisang bisa berubah dari material terbuang menjadi komoditas unggulan.” ungkapnya pada Jurnalis Chanel7.id
- Advertisement -
Tiyono menekankan pentingnya kolaborasi antara desa, BUMDes, dan home industry. Jika para kepala desa bersedia memfasilitasi sarana pengolahan, serta BUMDes berperan sebagai pengepul awal, rantai pasok bahan baku dapat terjamin. Disisi lain, home industri anyaman bisa memperoleh kebijakan harga yang adil, tanpa perlu khawatir kelangkaan stok. Skema ini tak hanya menstabilkan usaha mikro, melainkan juga menghidupkan ekonomi lokal.
Tantangan utama terdapat pada ketersediaan alat dan keterampilan dasar. Meski proses manual cukup sederhana, ketelatenan dan kesabaran menjadi faktor penentu mutu benang. Belum semua komunitas desa memiliki skill dan akses ke pemasaran berikut teknik pewarnaan alami, alat pemintal, atau pelatihan teknis. Banyak yang mundur sebelum mencoba. Oleh sebab itu, Tiyono bersedia bertindak sebagai mentor, menyediakan demo langsung dan modul pelatihan terstruktur bagi para pemula yang dikemas dalam satu paket pemberdayaan masyarakat oleh team Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community.
Karenanya Kunjungan kali ini adalah sekaligus perencanaan guna pengembangan modul yang bisa fleksibel. Lebih jauh, Tiyono dan team Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community juga berencana membangun pusat pelatihan keliling di beberapa desa sekitar. Modelnya sederhana, mobile workshop dengan unit pengolahan mini lengkap, dibantu instruktur berpengalaman, Desa yang ingin ikut program cukup menyediakan ruang terbuka dan pelepah pisang segar. Semua bahan dasar dan alat dikirim ke lokasi. Hasil akhir berupa gulungan benang siap anyam akan langsung diangkut oleh pengepul, tanpa biaya distribusi bagi pengrajin.
Harapannya, skema ini mendorong munculnya wirausaha baru di level akar rumput. Ibu-ibu PKK, pemuda desa, hingga penyandang disabilitas bisa menghasilkan benang pelepah pisang dari rumah masing-masing. Dengan harga pembelian menarik, sekaligus jaminan pasar, partisipasi mereka akan tinggi. Selain menambah pemasukan keluarga, program ini juga memperkuat ketahanan ekonomi desa dan mengurangi limbah agraris serta ikut serta dalam kampanye go green dan pelestarian lingkungan.
Kunjungan tim Ngantilalicaranecturu turut memicu ide publikasi edukatif. Melalui foto, video tutorial, dan artikel singkat di media sosial, kisah Tiyono dan peluang pengolahan pelepah pisang bisa tersebar luas. Ngantilalicaraneturu Tour guide Community berperan sebagai jembatan media, mengakomodir kegiatan workshop, memamerkan hasil anyaman serat pisang kepada wisatawan, sekaligus mengajak investor sosial, lokal dan asing untuk bergabung. Pendekatan storytelling ini diharapkan meningkatkan nilai jual sekaligus daya tarik sektor kerajinan ramah lingkungan.
- Advertisement -
Saat berdialog dengan Tiyono, tim mendapati bahwa buyer mancanegara sudah mulai menaruh minat. Pasar Eropa dan Amerika Serikat khususnya menghargai anyaman berbahan alami yang sustainable. Jika rantai pasok terjaga dan sertifikasi organik dipenuhi, produk anyaman dari benang pelepah pisang siap menembus etalase global. Tinggal bagaimana desa-desa menyiapkan diri, dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas hingga standar lingkungan.
Dari sisi sosial, inisiatif pengolahan pelepah pisang memicu kebanggaan lokal. Petani pisang merasa limbah kebun mereka diolah menjadi sesuatu bermakna. Perajin tradisional rotan senang dapat alternatif sumber pendapatan. Pemerintah desa memperoleh potensi PAD baru lewat kemitraan BUMDes. Desa-desa yang berpotensi memiliki produk unggulan dan pengembangan potensi wisata, semua pihak saling diuntungkan. Prinsip ekologi, ekonomi, dan sosial berjalan beriringan, menegaskan bahwa inovasi sederhana bisa menghadirkan perubahan besar.
Menutup kunjungan, Tiyono berpesan dan mengajak seluruh kepala desa, BUMDes, dan stakeholder untuk berdialog mendalam. Ia siap memfasilitasi sosialisasi, praktek langsung, dan pendampingan jangka panjang di desa-desa. “Calon perajin benang pelepah pisang hanya perlu niat, sedikit kesabaran, dan optimisme. Program pemberdayaan desa ini bukan cerita kosong, aktivitasnya terukur, risikonya minimal, imbalannya nyata. Kini saatnya bergerak bersama, mengubah limbah menjadi benang penggerak kesejahteraan.” papar Tiyono.
- Advertisement -
Ipunk salah seorang pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community juga menambahkan dalam waktu dekat dirinya akan mengkondisikan timnya guna bergerak dalam upaya sosialisasi dan workshop tersebut, serta menawarkan program kerjasama pada beberapa stakeholder rekanan.
Akhirnya dari kunjungan singkat ke workshop CRM Craft Tiyono ini semakin membuka lagi wawasan dan proyeksi ke depan terkait pemanfaatan limbah, pemberdayaan masyarakat desa, dan potensi pengembangan wisata desa.
®Pitut Saputra

