KLATEN, CHANEL7.ID – Di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, masyarakat bergotong-royong menggelar sebuah tradisi mendalam setiap tahun, yakni Merti Tirto (Kenduri Banyu). Ritual ini bukan sekadar upacara biasa, melainkan wujud syukur, ruwatan, dan pengingat kuat bahwa setiap tetes air yang mengalir ke ladang, sumur, atau sawah adalah anugerah yang harus dirawat. Tradisi ini kian mengakar sebagai simbol ikatan antara warga dengan alam, khususnya tujuh sumber mata air yang menopang kehidupan warga Desa Ponggok (27/07/2025).
Acara sedianya berlangsung pada Minggu siang hingga malam hari, berpusat di halaman Kantor Desa Ponggok. Diawali dengan lantunan sholawat doa dari grup musik Hadroh yang berturut turut berlanjut ke penampilan Drumband dari SDN Ponggok dan penampilan Jathilan, Tari Gedruk, Tari Topeng Ireng, serta serah terima SK pada perangkat RT RW lama ke yang baru periode 2025 – 2028. Tepat saat matahari mulai meredup, rombongan warga, didampingi tokoh adat, perangkat desa, hingga seniman lokal, serta mahasiswa KKN UNS dan UMS berangkat berkeliling mengambil air dari tujuh titik sumber. Ritual kirab budaya Merti Tirto ini menghidupkan kembali semangat kebersamaan, saat warga berjalan tertib, membawa payung bunga dan kendi, diiringi alunan gamelan, hingga bunyi-bunyian, dengan cucuk lampah dan penyapu jalan di posisi terdepan.
Tujuh sumber air pilihan mencerminkan cakupan wilayah tangkapan air Desa Ponggok. Mulai Umbul Besuki di sisi barat desa, Umbul Sigedang yang menyimpan cita rasa legendaris, hingga Umbul Ponggok yang kini lebih dikenal wisatawan. Empat sumber lainnya tersebar di lahan persawahan dan perbukitan, masing-masing menawarkan karakter air jernih yang menyegarkan. Para peserta kirab bergantian mengambil air dengan penuh khidmat, seolah memetik berkah dari perut bumi.
Beragam kesenian mewarnai perjalanan kegiatan budaya Merti Tirta ini. para seniman tari yang menari penuh energi, dan penampilan barongan jathilan reog lewat tari gedruk dan topeng ireng mempesona para pengunjung yang hadir, sementara di penghujung acara direncanakan pentas wayang kulit dan akan menuturkan lakon tokoh yang menjaga keseimbangan alam, serta pembacaan tetembangan Jawa yang memuji Sang Pencipta. Penampilan seni bukan hanya pemanis acara, disini, melainkan cara meneguhkan pesan, menjaga alam dan budaya sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
- Advertisement -
Sesampainya di halaman kantor desa, semua air dituangkan ke dalam satu wadah besar berlapis kain hitam putih. Prosesi penggabungan ini menjadi simbol “ruwatan” pembersihan kolektif dari segala hal buruk, sekaligus janji bersama untuk merawat sumber air. Sebagian air kemudian disiramkan ke peserta kirab sebagai tanda berkah, sisanya dipendam atau disalurkan kembali ke mata air untuk menjaga debit dan kejernihannya.
Junaedi Mulyono, Kepala Desa Ponggok, menegaskan bahwa Merti Tirto lebih dari ritual seremonial. “Tradisi ini mengingatkan kita bahwa air di Ponggok berasal dari tangkapan alam Merapi dan Merbabu. Setiap tetes air hujan yang meresap ke tanah, dan sebagian besar mengalir ke desa kita,” ujarnya di sela-sela kegiatan acara. Ia berharap dengan ritual ini, masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga daerah tangkapan hulu hingga hilir.
Secara geografis, Desa Ponggok berada di hilir zona pegunungan. Hujan yang jatuh di lereng Merapi dan Merbabu sebagian besar meresap ke lapisan tanah vulkanik, kemudian memancar keluar sebagai mata air. “Sekitar 20 persen air hujan di kawasan ini bermuara ke Ponggok,” tambah Junaedi Mulyono. Kesadaran ini begitu krusial untuk menghindari praktik penebangan liar maupun konversi lahan yang dapat mengurangi kapasitas resapan air.
Pada tataran program pembangunan, Merti Tirto sejalan dengan rencana pembaruan Desa Ponggok menempatkan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sebagai dua pilar utama. Setiap kali ritual digelar, maka bersamaan pula digulirkan pelatihan konservasi lahan, penyuluhan sanitasi, penebaran benih ikan dan penanaman pohon serta forum warga untuk merumuskan kebijakan pengelolaan air berbasis komunitas.
Sugeng Raharjo Koordinator Merti Tirto, menekankan makna kolektif dari tradisi ini. “Kita bukan hanya saudara sesama warga Ponggok, melainkan juga memiliki paseduluran dengan alam Merapi. Merti Tirto (Kenduri Banyu) hendak menegaskan bahwa merawat air adalah tanggung jawab bersama dari hulu hingga hilir,” ujarnya. Ia berharap momentum ini tak berhenti sebagai simbol semata, melainkan ditindaklanjuti dengan aksi nyata, reboisasi, pembuatan biopori, hingga patroli sumber air, serta pelepasan benih ikan guna menjaga ekosistem.
- Advertisement -
Sebagai puncak, pagelaran wayang kulit pada malam hari akan dibawakan oleh Dalang Ki Sarlair dari Manjung, Ngawen Klaten. Dan mengusung lakon tokoh pewayangan dengan narasi tentang pemeliharaan semesta yang terasa kental dengan pesan ekologis. Seluruh tokoh pun memberikan wejangan halus tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, sebelum dalang menutup lakon dengan harapan alam dan manusia bersinergi.
Di akhir perayaan kegiatan budaya sedianya juga diisi dengan penyembelihan kambing kendit dan kembul bujono bersama. Rangkaian Merti Tirto Kenduri Banyu Desa Ponggok tak hanya mengikat warga secara sosial, tetapi juga meneguhkan suasana batin, hasrat bersama untuk memurnikan niat, menyulam kembali harmoni dengan alam, dan menanamkan tanggung jawab antar generasi. Di balik gemerlap pagelaran dan nikmatnya air yang disaring dari tujuh mata air, terpatri tekad kuat seluruh elemen desa setiap tetes terus mengalir, memberi kehidupan bagi hari esok.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

