KLATEN, CHANEL7.ID – Desa Palar pagi itu berdenyut dengan semangat yang berbeda. Sejak fajar, lampu hias mulai menyala, ranting daun kering tertata rapi, dan tirai kain berwarna melambai lembut di aula TP PKK Palar. Di balik kemeriahan dekorasi, Kepala Desa Palar, Soni Efandi, mengawasi setiap persiapan dengan cermat. Bagi Soni, workshop pelatihan anyaman dan pengolahan jali bukan sekadar acara seremonial belaka, melainkan tonggak penting dalam upaya pemberdayaan ekonomi warganya. Ia percaya bahwa dengan mengedepankan kearifan lokal dan menyertakan semua lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, Desa Palar dapat merangkai masa depan yang lebih mandiri dan inklusif.
Semangat gotong-royong terlihat jelas ketika panitia, warga, dan mahasiswa KKN Universitas Negeri Islam Raden Mas Said kelompok 219 dan 220 memadati aula. sedari malam sebelumnya. Meja dan kursi sudah mulai ditata, logistik disusun, dan papan nama zona workshop dipasang. Di sela-sela persiapan, Soni Efandi menyempatkan diri berbincang dengan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kesinambungan antara program akademik dan kebutuhan nyata desa. “KKN Mahasiswa berlaku bukan sebatas sebagai tamu singgah, tetapi sebagai mitra jiwa warga desa Palar,” ujarnya. Kata-kata ini mengobarkan semangat para mahasiswa untuk menggali lebih dalam potensi lokal, bukan hanya sekedar melaksanakan tugas kurikulum sekolah.
Saat gerbang aula dibuka, dua zona utama menanti peserta, workshop anyaman di dalam ruangan dan pengolahan jali di pelataran luar. Ruang anyaman dirancang sedemikian rupa agar setiap sudut tampak inspiratif. Soni Efandi meninjau langsung area ini, memastikan keberadaan meja tinggi-rendah dan penerjemah isyarat guna menjamin aksesibilitas. Bagi Soni, inovasi desain ruang adalah cerminan sikap desa terhadap warganya. “Kreativitas bukan hak istimewa, melainkan milik semua,” tegasnya. Pernyataannya menjadi semacam deklarasi bahwa karya tangan sekecil apa pun boleh lahir dari siapa pun, tanpa diskriminasi.
Bahan-bahan lokal dipilih dengan seksama untuk memperkuat branding desa. Rotan klasik menggambarkan ketahanan, sementara eceng gondok kering menawarkan sentuhan ramah lingkungan. Pelepah pisang diekstraksi menjadi serat halus yang memudahkan anyaman ukuran besar, dan kertas daur ulang memperkaya corak kontemporer. Soni sangat antusias dalam mengapresiasi makna filosofi di balik pemilihan bahan ini. Ia melihat bahan lokal bukan hanya soal menekan biaya produksi, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan. “Anak cucu kita harus tahu bahwa kekayaan desa tak hanya tanah dan pepohonan, tetapi juga keterampilan nenek moyang,” ujarnya.
- Advertisement -
Di bagian luar aula, aroma jali mendominasi udara. Ibu-ibu PKK bergabung dengan mahasiswa untuk mendemonstrasikan pengolahan beras dan tepung jali menjadi aneka kudapan. Rebusan jali yang pulen disandingkan dengan santan hangat, kemudian peserta diajak meracik puding jali bercita rasa rempah. Soni menekankan manfaat kesehatan jali yang kaya serat dan rendah gula. Ia berharap makanan tradisional ini menjadi alternatif yang digemari tak hanya di pasar lokal, tetapi juga pasar urban. Menurutnya, jika cita rasa desa bisa menembus kota, maka nilai produk desa akan semakin tinggi.
Kombinasi workshop anyaman dan pengolahan jali menciptakan ekosistem belajar yang holistik. Soni Efandi mengamati peserta yang tampak asyik menenun dan sesekali mencicipi bubur jali di meja samping. Ia mencermati tiap detail interaksi, tawa, kegagalan simpul anyaman, hingga rasa penasaran saat mencetak puding dan wedang puding. Bagi Soni, momen-momen kecil inilah yang menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri. “Ketika masyarakat menyadari bahwa tangan mereka mampu menghasilkan karya bernilai, maka pijakan ekonomi kreatif akan semakin kokoh,” ujarnya. Pandangannya ini menegaskan bahwa pembangunan harus dimulai dari rasa percaya diri warga.
Upacara simbolis penanaman bibit jali yang mengawali kegiatan pagi ini dengan simbolis penanaman bibit-bibit kecil yang ditanam berjajar rapi di pelataran kebun PKK Desa Palar, oleh perwakilan mahasiswa kelompok 219 dan 220 UIN RM Said Surakarta melambangkan janji pembangunan berkelanjutan. Soni Efandi juga mengapresiasi hal tersebut dan berharap dengan penanaman Jali tersebut bisa kemudian nanti menjadi simbol awal dalam pergerakan lebih lanjut kedepan. Setiap kegiatan menggoreskan makna, memupuk kreativitas hari ini, menuai kemandirian esok hari. Kepala Desa menuturkan bahwa penanaman ini bukan sekadar ritus seremonial, melainkan pengingat komitmen semua pihak untuk merawat dan mengembangkan potensi desa. “Jali akan tumbuh subur jika kita terus memberi perhatian,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Soni Efandi memaparkan rencana jangka menengah dan panjang. Pelatihan lanjutan teknik anyaman motif kompleks dan pewarnaan alami akan digelar lebih lanjut kedepan, bekerjasama dengan sanggar seni dan praktisi profesional. Untuk produk jali, desa akan membangun dapur sentral yang menampung beras dan tepung jali dari kelompok tani setempat, sekaligus menjadi pusat produksi kue tradisional. Desa Palar juga tengah menyiapkan platform penjualan digital untuk memasarkan produk UMKM ke luar daerah. Soni menegaskan bahwa akses pasar digital adalah pintu gerbang menuju pasar nasional dan internasional.
Lebih jauh, Pemerintah Desa Palar berencana menjalin kemitraan dengan lembaga pembiayaan mikro dan bank desa untuk menyediakan modal usaha bersyarat lunak. Skema ini diharapkan memudahkan pengrajin dan pelaku UMKM memulai usaha tanpa terbebani bunga tinggi. Soni percaya bahwa modal adalah katalisator, tetapi kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutanlah yang akan memastikan keberhasilan. “Modal bisa dicari, tetapi dukungan sesama harus dijaga hati-hati,” ujarnya. Pesan ini menjadi fondasi bagi setiap program pemberdayaan yang dirancang desa.
- Advertisement -
Soni Efandi berharap kedepan Pemerintah Daerah maupun Pusat juga memiliki keberpihakan serupa pada komunitas-komunitas disabilitas yang ada, khususnya di Palar, Kecamatan Trucuk serta menyediakan alokasi anggaran guna mensupport kegiatan-kegiatan serta upaya komunitas disabilitas demi perjuangan setara sesama.
Ketika matahari mulai condong ke barat, suasana festival perlahan menepi pada sesi refleksi. Warga, mahasiswa, dan stakeholder lainnya berkumpul untuk mendengarkan laporan hasil pelatihan. Soni Efandi menutup acara dengan menegaskan bahwa keberhasilan Desa Palar adalah keberhasilan bersama. Ia mengajak semua pihak untuk tetap berkomunikasi, mengevaluasi, dan memperbaiki program secara berkelanjutan. Baginya, pembangunan desa bukanlah proyek satu kali jadi, melainkan proses panjang yang menuntut kesabaran, solidaritas, dan inovasi.
Workshop anyaman dan pengolahan jali di Desa Palar bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan cermin komitmen membangun ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan Soni Efandi, desa ini menampilkan visi bahwa setiap langkah kecil hari ini akan menjadi fondasi kejayaan di masa depan. Ketika anyaman rotan dan bolu jali menikah dalam satu festival, lahirlah harmoni antara tradisi dan inovasi, harmoni yang akan terus bergema di setiap sudut Desa Palar.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

