KLATEN, CHANEL7.ID – Sanggar Rojolele lahir sebagai ruang inisiatif budaya dan sosial yang berakar di Desa Delanggu, Klaten. Di bawah payung Tani Berdikari, sanggar ini mengusung pendidikan agraria, penguatan komunitas, pengorganisasian petani, serta produksi seni dan budaya berbasis kehidupan desa. Sejak pendiriannya pada 2016, sanggar ini menjadi lokasi belajar dan berdiskusi yang memupuk kembali rasa bangga terhadap tradisi bertani yang nyaris terlupakan (06/09/2025).
Menurut Citra Megasari Narahubung festival melalui release yang dikeluarkan memaparkan Ide pendirian Sanggar Rojolele datang dari Eksan Hartanto, seorang aktivis budaya desa yang merasa kehilangan identitas agraris sebagai penopang kehidupan komunitas. Dalam dekade awal abad ini, banyak generasi muda desa yang enggan meneruskan tradisi sawah dan ladang. Eksan kemudian merancang wadah inklusif yang menyatukan elemen pendidikan, seni pertunjukan, dan aksi sosial-ekonomi untuk menghidupkan kembali semangat bertani.
Misi utama Sanggar Rojolele adalah mengembalikan martabat petani melalui pendekatan holistik. Lewat kurikulum pendidikan agraria, peserta didik belajar tentang ekologi lahan, teknik bercocok tanam ramah lingkungan, serta nilai-nilai gotong-royong dalam sistem tanam tradisional. Selain itu, sanggar menyelenggarakan lokakarya seni tradisi, seperti gamelan, tari tani, dan puisi rakyat, sebagai medium ekspresi dan refleksi terhadap isu pertanian kontemporer.
Lebih jauh juga dipaparkan bahwasanya Sanggar Rojolele menginisiasi program pelatihan kewirausahaan desa. Melalui koperasi tani, petani muda mendapatkan akses permodalan, pasar, dan pendampingan bisnis. Kampanye advokasi kebijakan lokal juga dijalankan secara berkelanjutan, menuntut alokasi anggaran publik yang berpihak pada infrastruktur pertanian skala rumahan. Tujuannya adalah menciptakan regenerasi petani muda yang mandiri dan berdaya saing.
- Advertisement -
Festival Mbok Sri muncul sebagai puncak kreasi Sanggar Rojolele sejak 2017. Awalnya bernama Festival Mbok Sri Mulih, perayaan ini menjadi kendaraan besar untuk mengangkat isu-isu pertanian Desa Delanggu ke panggung publik. Dalam format festival, ragam kegiatan edukasi, seni, dan diskusi terbuka terjadi dalam satu nafas kebersamaan. Festival ini menempatkan petani sebagai narator utama dalam merangkai narasi pertanian masa kini.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan “Mulih” disematkan untuk menegaskan makna kembali ke akar agraris. Pada penyelenggaraan berikutnya, festival disingkat menjadi Festival Mbok Sri, namun esensinya tetap memanggil warisan lokal sebagai pijakan utama. Nama Mbok Sri sendiri merujuk pada simbol kesuburan dan berkah pertanian yang tak lekang dimakan zaman.
Tahun ini, Festival Mbok Sri memasuki edisi kedelapan dengan tema “Seni Bertahan Petani.” Tema ini menyatakan bahwa bertani hari ini bukan hanya profesi, melainkan karya seni bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi, minimnya dukungan kebijakan, dan ketiadaan infrastruktur memadai. Di tengah majunya industrialisasi dan arus urbanisasi, petani kerap terpinggirkan dalam agenda pembangunan nasional.
Festival #8 menegaskan eksistensi ruang alternatif yang menolak menyerah. Sejak 2017, festival ini bukan sekadar platform isu, melainkan metode pemberdayaan masyarakat lewat kerja kolektif yang menekankan keguyuban dan gotong-royong. Setiap tahap, mulai perancangan program hingga eksekusi, melibatkan seluruh unsur masyarakat desa sebagai mitra sejati dalam mencipta pengalaman festival.
Pada setiap edisinya, FMS menyediakan ruang partisipasi penuh bagi warga Delanggu. Mulai dari merancang instalasi seni dari bahan alam, dekorasi panggung yang mengangkat motif sawah, hingga pementasan tari tani yang merujuk pada musim tanam dan panen. Bahkan dapur umum menjadi pusat ritual bersama, di mana sajian pangan lokal menghidupkan kembali nilai keakraban dan solidaritas antar warga.
- Advertisement -
Upaya pelestarian ritual Wiwitan dijalankan melalui prosesi adat yang dipadu dengan seni kontemporer. Sanggar memperkenalkan sajian khas hasil pangan lokal, seperti uli ketan panggang, gegudangan, dan jamu herbal, untuk menguatkan rasa bangga terhadap kekayaan kuliner desa. Semua kegiatan ini dirancang untuk menegaskan bahwa pertanian bukan sekadar produksi pangan, melainkan kesadaran kolektif yang menyatukan kehidupan.
Kolaborasi menjadi kunci memperkaya konten festival tahun ini. Sanggar Rojolele menggandeng Rumah Dokumenter Klaten untuk program Residensi Srawung Sineas. Sineas asal Malang, Barikly Farah, diundang untuk merekam kegusaran para petani Delanggu dalam bentuk film dokumenter. Hasil karya Srawung Sineas akan ditayangkan dalam program Layar Tancap Warga bersama beberapa film pendek lain, mempertemukan opini publik dengan realitas petani di lapangan.
Dari narasi langsung petani hingga format pementasan artistik, Festival Mbok Sri #8 menghadirkan ruang dialog antargenerasi. Generasi muda diajak merangkul tradisi sambil merancang model pertanian berkelanjutan. Sementara petani senior mendapatkan ruang bercakap mengenai tantangan masa kini. Interaksi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial sebagai landasan solidaritas agraris.
- Advertisement -
Selama delapan tahun, FMS konsisten meneguhkan peran desa sebagai aktor utama pembangunan. Festival ini telah menumbuhkan jaringan antarpelaku budaya, pemerhati agraria, aktivis, serta pemerintah lokal. Komitmen kolektif mereka menjadi modal sosial yang luar biasa untuk mewujudkan cita-cita pertanian bermartabat dan kemandirian desa.
Menutup pemaparan Citra menegaskan “Dengan semangat “Seni Bertahan Petani,” Festival Mbok Sri edisi ke-8 bukan sekadar ajang perayaan, melainkan seruan kolektif untuk terus berinovasi, berkarya, dan bertahan.” ujar Citra Ajakan ini terbuka untuk siapa saja yang peduli pada masa depan agraria Indonesia. Mari bergabung, bersua di sawah, dan merakit mimpi besar demi keberlanjutan budaya tani yang adil, berdaulat, dan bermartabat.
Memasuki hari kedua festival malam ini, pengunjung yang hadir akan diajak menyelami kekayaan budaya dan kreativitas lokal mulai dari Jagongan Tani “Membaca Masa Depan Padi Rojolele” hingga deretan workshop seru, Wayang Botol, Olahan Pangan Lokal, dan Pembuatan Karak, yang menggugah imajinasi. Saat senja mulai tiba nanti, panggung utama akan bergemuruh dengan penampilan Buteng & Jam Kosong Sound System, ditemani atraksi Live Melukis Arang dan Parade Layangan Bocah yang memikat segala usia. Menjelang malam, aroma lezat Sadono Set Rijsttafel oleh Aroma Rasa memanggil dalam Fun Dining Experience, sebelum keanggunan karawitan Ngesti Rahayu dan kekayaan genre musik dari Cuaca Hari Ini, Obat Bius, hingga OM Kacau Balau menutup rangkaian dengan ledakan energi dan nuansa yang tak terlupakan.
Jadi tunggu apalagi mari datang dan saksikan sendiri keseruannya.
®Pitut Saputra

