KLATEN, CHANEL7.ID – Hari ini suasana Balai Desa Tjokro terasa berbeda. Semangat kegembiraan dan harapan mengalir deras di antara barisan kursi yang disusun rapi. Rombongan PPM KKN 12 UNNES hadir membawa masyarakat, bertemu dengan ibu-ibu PKK setempat dalam rangkaian sosialisasi yang bukan sekadar perkenalan, melainkan pembukaan jalan menuju program Live Cooking pada 13 Juli 2025. Langit cerah tanpa awan mengiringi jalannya acara, seolah mendukung optimisme setiap pihak yang berkumpul untuk menciptakan sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, komunitas, dan pelaku usaha mikro (10/09/2025).
Sosialisasi ini bermula dari pengantar hangat Ibu Kepala Desa Tjokro, Artika Sari yang menceritakan sejarah singkat desa dan potensi kulinernya. Ia menekankan pentingnya peran perempuan desa sebagai garda terdepan dalam pengembangan ekonomi lokal. Kemudian, koordinator PPM KKN 12 UNNES memaparkan visi kegiatan, yakni memadukan teori keilmuan mahasiswa dengan praktik langsung. Hal ini sejalan dengan sebuah demonstrasi memasak profesional yang sekiranya akan digelar. Dengan antusias, para mahasiswa memperkenalkan diri, menjelaskan latar belakang studi masing-masing, serta tugas lapangan yang akan dijalani. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai tenaga pendukung, tetapi sebagai agen perubahan yang berupaya mentransformasikan pengetahuan akademik menjadi manfaat nyata bagi desa.
Cook Art dan Cold Kitchen Marcus Setiawan yang hadir sebagai narasumber mengatakan “Inti program ini adalah Live Cooking, sebuah acara demonstrasi memasak di depan khalayak dengan standar profesional. Materi yang akan dipresentasikan meliputi teknik dasar memotong, pengolahan bahan lokal, tata hidang (plating), hingga cara menyeimbangkan rasa. Mahasiswa bertugas menyusun modul resep, menyiapkan bahan baku sejak pagi, serta merancang layout dapur demonstrasi. Sementara ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM diundang untuk berpartisipasi aktif, membawa kreasi olahan tradisional dan modern yang bisa dipadukan dengan konsep acara. Tujuan utamanya adalah melatih keterampilan kuliner sekaligus membuka peluang pasar baru melalui branding kuliner desa.” terangnya.
Puncak sosialisasi tiba pada sesi tanya jawab bersama Marcus Setiawan, Art Cook & Cold Kitchen. Dengan sabar dan berwibawa, Marcus menanggapi setiap pertanyaan, dari pemilihan sayuran segar, penggunaan rempah lokal yang tepat, hingga trik mengatur suhu kompor portabel agar generasi generik matangnya sempurna. Ia juga membagikan kiat dokumentasi proses memasak menggunakan ponsel pintar, supaya materi tutorial dapat diunggah di media sosial dan menjadi daya tarik tersendiri. Penjelasan Marcus memantik ide-ide segar di benak ibu-ibu PKK, yang mulai membayangkan peluang kolaborasi dengan generasi muda desa.
- Advertisement -
Di balik gemerlap sesi demonstrasi, persiapan teknis ternyata melibatkan kerja keras tak tampak. Tim mahasiswa PPM 12 KKN UNNES berhari-hari merancang skema registrasi peserta, menata peralatan dapur, hingga uji coba trial memasak di lokasi. Bahan baku disuplai oleh UMKM lokal dari tetelan sapi, beras merah, hingga sayuran organik hasil panen PKK. Setiap elemen dijaga kualitasnya, agar Live Cooking bukan sekadar hiburan, melainkan pameran cita rasa desa Tjokro. Ibu-ibu PKK mendapat pelatihan singkat tentang penanganan alat modern dan sanitasi pangan; mereka belajar mengenali standar kebersihan yang selama ini cenderung diabaikan.
Semangat gotong-royong terasa kuat lewat sinergi Pentahelix, pemerintah desa berperan sebagai regulator dan fasilitator; akademisi menyediakan kerangka ilmiah; pelaku usaha lokal adalah penyedia bahan baku dan inovator resep; media serta komunitas berfungsi mengampanyekan acara, sedangkan masyarakat sebagai pelaksana utama agenda. Model ini menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan melalui kemitraan lintas sektor. Desa Tjokro, dengan segala potensi dan tantangannya, diharapkan menjadi contoh bagi desa lain dalam mengembangkan wisata kuliner berbasis komunitas.
Ke depan, Live Cooking bukan titik akhir, melainkan langkah awal. Keberhasilan acara bakal dievaluasi melalui umpan balik peserta, peningkatan kompetensi PKK, dan pertumbuhan omset UMKM pasca-acara. Mahasiswa PPM 12 KKN UNNES akan menyiapkan laporan terperinci, disertai rekomendasi strategis untuk program lanjutan, seperti pelatihan pemasaran online atau pengemasan produk kreatif. Ibu-ibu PKK yang sebelumnya hanya memasak untuk keluarga kini diproyeksikan menjadi wirausaha kuliner kecil menengah, dengan dukungan pembinaan berkelanjutan.
Sosialisasi hari ini menorehkan sebuah narasi baru, ketika ilmu bertemu praktik, desa pun berdenyut dengan kehidupan ekonomi yang lebih dinamis. Tjokro bersiap menyambut tamu 13 Juli 2025 dengan deretan stan kuliner yang memikat lidah dan mata. Lebih dari sekadar cita rasa, tersimpan harapan bahwa generasi muda dan perempuan desa bangkit, berdaya, dan berdaya saing. Dan pada akhirnya, setiap suapan dalam Live Cooking kelak akan menjadi simbol kecil kemenangan kolaborasi dan inovasi bagi Desa Tjokro.
- Advertisement -
- Advertisement -
®Pitut Saputra

